Penelitian Sastra Rakyat metode Resepsi
Metode Analisis Folklor dengan Pendekatan Resepsi Masyarakat: Studi Kasus Cerita Panji Semirang
Pendahuluan
Folklor merupakan bagian penting dari kebudayaan yang diwariskan secara lisan dari generasi ke generasi. Dalam masyarakat Melayu-Nusantara, folklor bukan hanya sekadar hiburan, melainkan sarana pendidikan, kontrol sosial, dan penanaman nilai-nilai budaya. Sejalan dengan perkembangan ilmu sastra, folklor dapat dianalisis melalui berbagai pendekatan. Salah satunya adalah pendekatan resepsi masyarakat, yakni cara memahami karya berdasarkan tanggapan, penerimaan, dan interpretasi khalayak.
Cerita Panji Semirang adalah salah satu cerita Panji dari Jawa yang terkenal, mengisahkan perjuangan tokoh perempuan yang menyamar sebagai laki-laki untuk menuntut balas atas penghinaan dan kehilangan keluarga. Cerita ini tidak hanya dikenal di Jawa, tetapi juga menyebar ke Bali, Melayu, hingga Thailand dan Kamboja, membentuk narasi budaya lintas kawasan. Dengan pendekatan resepsi masyarakat, cerita Panji Semirang dapat ditelaah bukan semata-mata dari teksnya, melainkan bagaimana masyarakat menerimanya, menafsirkan, dan menjadikannya bagian dari identitas kolektif.
Metode Analisis Folklor: Pendekatan Resepsi
Pendekatan resepsi berakar dari teori resepsi sastra (Reception Theory) yang dipopulerkan oleh Hans Robert Jauss dan Wolfgang Iser pada dekade 1970-an. Dalam konteks folklor, pendekatan ini memandang cerita rakyat tidak statis, tetapi selalu hidup dalam ingatan dan penafsiran masyarakat.
Ada beberapa langkah dalam metode analisis folklor dengan pendekatan resepsi masyarakat:
1. Identifikasi Teks
Menentukan versi cerita rakyat yang akan dianalisis. Setiap masyarakat biasanya memiliki variasi teks dengan modifikasi sesuai konteks lokal.
2. Konteks Sosial-Budaya
Menganalisis situasi sosial, budaya, dan adat masyarakat yang menjadi latar resepsi cerita.
3. Resepsi Awal
Bagaimana cerita diterima pada masa awal kemunculannya, terutama sebagai alat pendidikan, ritual, atau legitimasi politik.
4. Resepsi Kontemporer
Bagaimana masyarakat modern membaca ulang cerita rakyat sesuai dengan tantangan zaman, termasuk dalam seni pertunjukan, film, dan pendidikan.
5. Resepsi Lintas Budaya
Bagaimana cerita yang sama diinterpretasi oleh masyarakat berbeda (misalnya Jawa, Bali, Melayu, hingga Thailand).
Cerita Panji Semirang: Ringkasan Naratif
Panji Semirang bercerita tentang putri Galuh Candrakirana yang kehilangan suaminya, Panji Inu Kertapati. Dalam penderitaan, ia memilih menyamar sebagai laki-laki dengan nama Raden Panji Semirang. Dalam perjalanan, ia membentuk kelompok prajurit perempuan yang setia, melakukan peperangan, dan menunjukkan kepemimpinan yang tangguh.
Cerita ini memuat nilai-nilai:
Ketabahan dan perlawanan perempuan → menolak tunduk pada nasib.
Kesetiaan → Candrakirana tetap teguh pada cintanya.
Kepemimpinan → perempuan yang menyamar sebagai lelaki memimpin pasukan.
Transformasi identitas → peralihan gender sebagai simbol perjuangan melawan batas sosial.
Resepsi Masyarakat terhadap Panji Semirang
1. Resepsi Tradisional (Masyarakat Jawa dan Bali)
Pada masyarakat Jawa klasik, Panji Semirang dipandang sebagai bagian dari legitimasi politik dan pendidikan moral. Panji adalah simbol ideal ksatria Jawa, sedangkan penyamaran Candrakirana dipahami sebagai bentuk kesetiaan istri dan uji ketabahan.
Di Bali, cerita ini berkembang dalam seni pertunjukan gambuh dan arja, di mana tokoh Panji Semirang ditampilkan dengan kekuatan teatrikal. Resepsi masyarakat Bali menekankan aspek tragis dan heroik Candrakirana, sekaligus menguatkan norma kesetiaan dan bakti.
2. Resepsi dalam Budaya Melayu
Cerita Panji termasuk Semirang masuk ke dunia Melayu melalui hikayat, misalnya Hikayat Cekel Waneng Pati. Dalam resepsi Melayu, tokoh Candrakirana tidak hanya lambang cinta, tetapi juga kehormatan dan harga diri. Perempuan penyamar laki-laki menjadi simbol daya tahan identitas Melayu dalam menghadapi kolonialisme.
3. Resepsi Lintas Negara (Thailand dan Kamboja)
Cerita Panji tersebar luas ke Asia Tenggara melalui jaringan perdagangan dan budaya. Di Thailand dikenal sebagai cerita Inao. Resepsi masyarakat Thailand menggarisbawahi aspek estetika, percintaan, dan hubungan spiritual antara manusia dan dewa.
Kamboja pun mengadaptasi cerita Panji sebagai bagian dari literatur istana, memperlihatkan resepsi politik: cerita dipakai untuk meneguhkan legitimasi kerajaan.
4. Resepsi Modern
Masyarakat kontemporer merefleksikan Panji Semirang dengan cara baru. Dalam kajian gender, Candrakirana dipandang sebagai representasi feminisme tradisional Nusantara, seorang perempuan yang menolak keterbatasan sosial.
Dalam seni modern, Panji Semirang muncul dalam komik, drama tari modern, hingga penelitian akademis sebagai simbol keberanian perempuan. Generasi muda menafsirkan cerita ini sebagai inspirasi emansipasi dan kesetaraan gender.
Analisis Resepsi Masyarakat
1. Resepsi sebagai Pendidikan Moral
Masyarakat tradisional menjadikan Pnji Semirang sebagai sarana pendidikan tentang kesetiaan, kesabaran, dan keteguhan hati.
2. Resepsi sebagai Legitimasi Sosial-Politik
Kerajaan Jawa dan Bali menggunakan cerita Panji untuk memperkuat legitimasi kekuasaan, menampilkan figur Panji sebagai ideal raja dan ksatria.
3. Resepsi sebagai Inspirasi Gender
Dalam konteks modern, cerita ini dipahami ulang melalui lensa feminisme. Tokoh Candrakirana yang menyamar menjadi laki-laki dipandang sebagai kritik terhadap sistem patriarki.
4. Resepsi sebagai Identitas Budaya Lintas-Batas
Penerimaan cerita Panji di Jawa, Bali, Melayu, Thailand, dan Kamboja menunjukkan fungsi folklor sebagai pengikat identitas Asia Tenggara.
Metode Resepsi sebagai Instrumen Analisis Folklor
Metode resepsi memiliki keunggulan:
Fleksibel: dapat membaca cerita pada berbagai periode sejarah.
Multidimensional: mampu mengungkap aspek sosial, politik, dan gender.
Dinamis: menempatkan masyarakat sebagai subjek aktif, bukan hanya objek.
Namun, ada keterbatasan:
Resepsi bisa berbeda-beda dan tidak seragam.
Interpretasi bisa bias, tergantung kepentingan politik atau ideologi yang berlaku.
Kesimpulan
Pendekatan resepsi masyarakat membuka jalan baru dalam analisis folklor, khususnya cerita Panji Semirang. Cerita ini hidup bukan hanya sebagai teks, tetapi sebagai narasi yang diterima, ditafsirkan, dan dimaknai secara berbeda oleh berbagai masyarakat.
Bagi masyarakat Jawa, cerita ini adalah pendidikan moral dan legitimasi politik.
Bagi Bali, ia menjadi seni pertunjukan yang hidup.
Bagi Melayu, cerita Panji adalah simbol kehormatan.
Bagi masyarakat modern, cerita ini adalah inspirasi feminisme dan kesetaraan gender.
Dengan pendekatan resepsi, folklor terbukti bukan sesuatu yang statis, melainkan dinamis dan kontekstual. Cerita rakyat seperti Panji Semirang membentuk karakter, memperkuat identitas, dan terus relevan bagi masyarakat lintas zaman.
Komentar
Posting Komentar