PROSES REVITALISASI CERITA JADI PERTUNJUKAN STORY TELLING
Tahapan Menggali Cerita Rakyat
1. Perjalanan (Eksplorasi Lapangan)
Mahasiswa melakukan perjalanan ke lokasi yang dipilih, misalnya desa adat, kampung nelayan, atau komunitas yang masih memiliki tradisi lisan. Perjalanan ini bukan sekadar kunjungan, tetapi juga proses membangun suasana, mengenali lingkungan sosial, dan menghormati adat setempat.
2. Penjelasan Narasumber
Setelah menemukan narasumber (biasanya orang tua, tetua adat, atau pendongeng), mahasiswa memperkenalkan diri, menjelaskan tujuan penelitian, serta meminta izin untuk merekam atau mencatat. Etika akademik sangat penting di tahap ini agar narasumber merasa dihargai.
3. Proses Pengumpulan Informasi
Informasi dikumpulkan dengan teknik sederhana, seperti:
Wawancara semi-terstruktur: pertanyaan seputar asal-usul, isi cerita, nilai moral, dan konteks budaya.
Observasi: mencatat suasana, ekspresi, dan cara penceritaan.
Perekaman audio/video: agar cerita bisa ditranskripsi ulang secara akurat.
4. Menuliskan Kembali (Transkripsi dan Penyuntingan)
Hasil rekaman ditranskripsi ke dalam bentuk tulisan. Tahap ini harus menjaga keaslian bahasa, tetapi disesuaikan dengan ejaan yang benar (EYD). Jika ada istilah lokal, mahasiswa menambahkan catatan kaki untuk penjelasan. Setelah transkripsi, dilakukan penyuntingan ringan agar teks mudah dipahami tanpa mengubah makna.
5. Menjadikan Storytelling
Cerita yang sudah ditulis diolah kembali agar layak dibawakan secara lisan dalam bentuk storytelling. Mahasiswa berlatih intonasi, ekspresi, dan penggunaan gestur. Cerita juga bisa disesuaikan gaya penceritaannya (humor, dramatik, atau heroik) sesuai audiens.
6. Pelaporan Keseluruhan
Tahap akhir adalah penyusunan laporan yang sistematis. Laporan biasanya berisi:
Pendahuluan: latar belakang dan tujuan penggalian cerita.
Metode: perjalanan, narasumber, dan teknik pengumpulan data.
Hasil: teks cerita rakyat yang sudah ditranskripsi.
Analisis: nilai moral, budaya, dan potensi pembelajaran bahasa.
Lampiran: rekaman, foto narasumber, catatan lapangan.
Pelaporan ini bukan hanya bentuk akademis, tapi juga cara mendokumentasikan warisan budaya agar bisa diwariskan ke generasi berikutnya.
Komentar
Posting Komentar