Belajar Berbahasa dengan Story' Telling
Proses Pembelajaran Cerita Rakyat dan Ujian Praktik Storytelling
1. Tahap Perencanaan
Guru/dosen memilih cerita rakyat yang relevan dengan budaya lokal, misalnya Malin Kundang, Sangkuriang, atau Si Pahit Lidah. Pemilihan cerita didasarkan pada:
Keterkaitan dengan nilai moral dan kearifan lokal.
Kesesuaian tingkat kesulitan bahasa dengan usia peserta didik.
Potensi cerita untuk dikembangkan dalam empat keterampilan berbahasa.
Selain itu, guru menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) atau lesson plan yang memuat tujuan, indikator keterampilan, metode, dan instrumen penilaian.
2. Tahap Pembelajaran Inti
a. Menyimak
Peserta didik mendengarkan guru atau rekaman audio cerita rakyat. Fokus pada: intonasi, pelafalan, isi cerita, dan pesan moral. Aktivitas lanjutan berupa menjawab pertanyaan pemahaman.
b. Membaca
Peserta didik membaca teks cerita rakyat versi tertulis. Guru memberi tugas analisis tokoh, alur, latar, serta nilai-nilai yang terkandung.
c. Berbicara (Latihan Storytelling)
Peserta didik berlatih menceritakan ulang cerita rakyat dengan gaya bahasa sendiri. Kegiatan ini dapat dilakukan secara berpasangan, kelompok, atau di depan kelas.
d. Menulis
Peserta didik menulis ulang cerita dengan gaya modern, membuat ringkasan, atau bahkan mengadaptasi ke dalam bentuk naskah drama.
3. Ujian Praktik: Storytelling Performance
Ujian praktik berupa penampilan storytelling dilakukan di akhir siklus pembelajaran. Setiap peserta didik memilih satu cerita rakyat, lalu membawakan secara lisan di depan kelas atau audiens lebih luas (misalnya festival sekolah).
Kriteria Penilaian Storytelling:
1. Penguasaan Bahasa: kefasihan, pelafalan, intonasi.
2. Struktur Cerita: kelengkapan alur, konsistensi, dan kohesi.
3. Ekspresi Nonverbal: gestur, mimik wajah, dan kontak mata.
4. Kreativitas: improvisasi, adaptasi gaya bahasa, serta daya tarik penampilan.
5. Pemahaman Isi: kemampuan menyampaikan pesan moral dan nilai budaya.
4. Manfaat Storytelling sebagai Ujian Praktik
Mengintegrasikan keterampilan berbahasa secara utuh (listening, speaking, reading, writing).
Meningkatkan kepercayaan diri siswa untuk berbicara di depan umum.
Menghidupkan budaya lokal melalui pertunjukan yang menarik.
Mengembangkan kreativitas dalam mengadaptasi narasi tradisional ke konteks modern.
5. Penutup
Proses pembelajaran berbasis cerita rakyat yang diakhiri dengan ujian praktik storytelling merupakan pendekatan yang tidak hanya memperkuat keterampilan berbahasa, tetapi juga membentuk karakter, kreativitas, dan identitas kultural peserta didik. Melalui praktik ini, bahasa Indonesia (dan bahasa daerah yang melatarinya) dapat tampil sebagai sarana komunikasi sekaligus media pelestarian budaya.
Komentar
Posting Komentar