Postingan

STORY TELLING

 Storytelling: Seni dan Ilmu dalam Komunikasi Manusia I. Pendahuluan Storytelling, atau penceritaan, adalah praktik sosial dan budaya yang melibatkan berbagi cerita untuk tujuan hiburan, pendidikan, pelestarian budaya, atau penyampaian nilai moral. Setiap budaya memiliki narasi khas yang dibagikan sebagai sarana untuk menghubungkan individu dan kelompok. Elemen penting dalam storytelling mencakup plot, karakter, dan sudut pandang naratif. Meskipun istilah "storytelling" sering dikaitkan dengan tradisi lisan, ia juga mencakup teknik-teknik yang digunakan dalam media lain untuk mengungkapkan atau mengungkapkan narasi sebuah cerita. II. Definisi dan Teori Storytelling Storytelling dapat didefinisikan sebagai penggunaan cerita atau narasi sebagai alat komunikasi untuk menghargai, berbagi, dan memanfaatkan pengetahuan individu. Menurut O. Serrat, storytelling adalah deskripsi hidup tentang ide, keyakinan, pengalaman pribadi, dan pelajaran hidup melalui cerita atau narasi yang memb...

Penelitian Sastra Rakyat metode Resepsi

Metode Analisis Folklor dengan Pendekatan Resepsi Masyarakat: Studi Kasus Cerita Panji Semirang Pendahuluan Folklor merupakan bagian penting dari kebudayaan yang diwariskan secara lisan dari generasi ke generasi. Dalam masyarakat Melayu-Nusantara, folklor bukan hanya sekadar hiburan, melainkan sarana pendidikan, kontrol sosial, dan penanaman nilai-nilai budaya. Sejalan dengan perkembangan ilmu sastra, folklor dapat dianalisis melalui berbagai pendekatan. Salah satunya adalah pendekatan resepsi masyarakat, yakni cara memahami karya berdasarkan tanggapan, penerimaan, dan interpretasi khalayak. Cerita Panji Semirang adalah salah satu cerita Panji dari Jawa yang terkenal, mengisahkan perjuangan tokoh perempuan yang menyamar sebagai laki-laki untuk menuntut balas atas penghinaan dan kehilangan keluarga. Cerita ini tidak hanya dikenal di Jawa, tetapi juga menyebar ke Bali, Melayu, hingga Thailand dan Kamboja, membentuk narasi budaya lintas kawasan. Dengan pendekatan resepsi masyarakat, cerit...

Pendekatan Totem dan Tabu dalam Cerita Rakyat Nusantara

Totem dan tabu adalah konsep antropologis yang membantu memahami makna simbolis cerita rakyat. Totem adalah simbol budaya yang mengikat identitas kolektif masyarakat, sedangkan tabu adalah larangan moral atau adat yang mengatur perilaku dan menjaga keseimbangan sosial dan spiritual. Dalam budaya Melayu, Totem dan Tabu hadir sebagai bagian dari struktur cerita rakyat yang berfungsi sebagai sarana pendidikan moral dan penguat adat. Cerita rakyat berperan sebagai “naskah budaya” yang menyampaikan nilai-nilai totémik dan aturan tabu. 1. Hikayat Hang Tuah Totem: Pedang Keramat Hang Tuah dan kesaktiannya → simbol kesetiaan, keberanian, dan pengabdian kepada raja. Pedang ini menjadi lambang identitas kelompok Kesultanan Melayu. Tabu: Larangan untuk mengkhianati Sultan → aturan moral dan politik yang tidak boleh dilanggar. Tabu ini membentuk kesadaran kolektif tentang kesetiaan dan kehormatan. Kontribusi Karakter: Cerita ini menginternalisasi nilai loyalitas, keberanian, dan pengabdian yang me...

Cerita Rakyat Nusantara sebagai Media Pembentukan Karakter Kolektif dalam Budaya Melayu

Pendahuluan Cerita rakyat merupakan warisan budaya yang diwariskan secara turun-temurun dalam bentuk lisan maupun tulisan. Di Nusantara, khususnya wilayah ASEAN Melayu, cerita rakyat tidak sekadar hiburan, tetapi sarana edukasi moral, filosofi hidup, dan pembentukan identitas kolektif. Cerita rakyat mengandung simbol mistis yang menjadi bagian dari cara masyarakat memahami dunia, baik dari sisi alam maupun spiritual. Nilai-nilai yang terkandung dalam cerita rakyat membentuk karakter masyarakat, seperti kesetiaan, keberanian, penghormatan terhadap adat, dan rasa kasih sayang. Dengan kata lain, cerita rakyat berperan sebagai “sastra lisan edukatif” yang membentuk kerangka moral dan sosial dalam budaya Melayu. Pembahasan Cerita Rakyat Nusantara dan Kontribusi Nilai Sosial 1. Hikayat Hang Tuah (Melayu – Malaysia) Hikayat Hang Tuah adalah legenda epik yang menekankan kesetiaan dan keberanian. Tokoh Hang Tuah menjadi lambang pengabdian kepada bangsa dan raja. Dalam konteks pembentukan karakt...

Keterampilan Berbahasa dalam Konteks Budaya Melayu dan Adat Tempatan

Bahasa adalah jantung komunikasi manusia. Di dalamnya terdapat rangkaian keterampilan yang saling melengkapi agar pesan dapat tersampaikan secara efektif dan bermakna. Keterampilan berbahasa terdiri dari enam aspek utama: membaca, menulis, berbicara, menyimak, mendengar, dan memirsa. Dalam budaya Melayu, keterampilan ini tidak hanya sekadar aspek teknis komunikasi, tetapi juga sarana pelestarian nilai budaya, adat, dan moral masyarakat. 1. Membaca (Reading Skills) Membaca adalah proses menginterpretasikan tanda-tanda bahasa tertulis. Keterampilan membaca melibatkan kemampuan memahami makna teks, mengenali struktur bahasa, dan menangkap pesan yang terkandung di dalamnya. Dalam budaya Melayu, membaca tidak sekadar menguasai teks, tetapi juga menghayati nilai yang terkandung dalam sastra lisan seperti pantun, hikayat, syair, dan gurindam. Fungsi Membaca dalam Budaya Melayu: Pelestarian tradisi: Membaca karya sastra Melayu kuno membantu menjaga nilai-nilai moral dan kearifan lokal. Penguat...

Maxim dan Seluk Beluk

1. Pengertian Maxim dalam Ilmu Bahasa Dalam ilmu bahasa, maxim berarti prinsip atau aturan yang mengarahkan cara orang berkomunikasi agar efektif, jelas, dan bermakna. Konsep ini populer lewat Paul Grice dengan Cooperative Principle dalam pragmatik. Ia mengajukan empat maxim dasar: 1. Maxim of Quantity (Kuantitas) → berbicara secukupnya, jangan kurang jangan lebih. 2. Maxim of Quality (Kualitas) → jangan berbohong, sampaikan yang benar. 3. Maxim of Relation (Relevansi) → bicara harus sesuai konteks. 4. Maxim of Manner (Cara) → berbicara jelas, tidak bertele-tele. Keempat maxim ini ibarat etika tak tertulis dalam percakapan. Bila dilanggar, muncullah humor, sindiran, atau ironi. Jadi, maxim bukan hanya pepatah bijak, tapi juga aturan interaksi sosial dalam bahasa. 2. Jenis-Jenis Maxim dan Penggunaan Maxim dapat dipahami dalam dua ranah: a. Dalam Pragmatik (Ilmu Bahasa Modern) Maxim Kuantitas → jangan terlalu hemat bicara (“Besok ada rapat.”) tapi juga jangan kebanyakan detail (“Besok ja...

PROSES REVITALISASI CERITA JADI PERTUNJUKAN STORY TELLING

 Tahapan Menggali Cerita Rakyat 1. Perjalanan (Eksplorasi Lapangan) Mahasiswa melakukan perjalanan ke lokasi yang dipilih, misalnya desa adat, kampung nelayan, atau komunitas yang masih memiliki tradisi lisan. Perjalanan ini bukan sekadar kunjungan, tetapi juga proses membangun suasana, mengenali lingkungan sosial, dan menghormati adat setempat. 2. Penjelasan Narasumber Setelah menemukan narasumber (biasanya orang tua, tetua adat, atau pendongeng), mahasiswa memperkenalkan diri, menjelaskan tujuan penelitian, serta meminta izin untuk merekam atau mencatat. Etika akademik sangat penting di tahap ini agar narasumber merasa dihargai. 3. Proses Pengumpulan Informasi Informasi dikumpulkan dengan teknik sederhana, seperti: Wawancara semi-terstruktur: pertanyaan seputar asal-usul, isi cerita, nilai moral, dan konteks budaya. Observasi: mencatat suasana, ekspresi, dan cara penceritaan. Perekaman audio/video: agar cerita bisa ditranskripsi ulang secara akurat. 4. Menuliskan Kembali (Transkr...